|
 
 

Konflik komunal di Aceh menjadi catatan paling kelam yang dialami Maluku dan Indonesia di era kemerdekaan. Konflik berdarah ini terjadi pada tahun 1999 ? 2002. Konflik yang terjadi antara pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama kristen ini menelan korban hingga sembilan ribu orang, ratusan tempat ibadah dibakar dan ratusan ribu orang mengungsi. Konflik ini terjadi pada saat perayaan hari raya Idul Fitri pada tanggal 1 Januari 1999. Banyak yang menduga, konflik komunal ini terjadi akibat faktor ekonomi yang melanda Indonesia.

Pada tahun sebelumnya, Indonesia terpuruk lantaran krisis ekonomi yang melanda di Asia Timur. Krisis ini mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah. Gesekan-gesekan kecil membuat masyarakat mudah terbawa emosi. Faktor inilah yang kemudian membuat gesekan antar kelompok masyarakat mudah terjadi. Apalagi banyak provokator yang memanfaatkan keadaan ini untuk mencari keuntungan pribadi. Faktor lain adalah tidak lagi berfungsinya nilai-nilai adat yang biasanya digunakan masyarakat Maluku untuk menyatukan berbagai kelompok masyarakat setempat. Adat Hibualamo (rumah bersama tempat upacara adat) dan Pela (tali kekerabatan dalam masyarakat) juga tidak lagi difungsikan sebagai perekat kelompok dan komunitas yang ada. Pada saat konflik meletus, ikatan-ikatan ini tak lagi berfungsi khususnya di kalangan anak-anak muda.

Upaya mediasi antara kelompok Islam dan Kristen juga tidak segera terjadi. Sebab saat itu, Indonesia sedang mengalami masa transisi setelah reformasi yang melengserkan rezim Presiden Soeharto. Hal ini menghambat pemerintah merespon krisis dengan cepat. Faktor-faktor tersebut yakni krisis ekonomi, tak adanya ikatan adat dalam masyarakat, transisi pemerintah dan keterlibatan provokator membuat krisis di Maluku berkepanjangan. Bersamaan dengan kondisi ekonomi yang perlahan membaik, konflik di Maluku juga berangsur pulih. Para tokoh masyarakat mengupayakan kembali pembangunan Maluku, mulai dari ikatan yang paling dasar yakni ikatan adat dan kekerabatan di akar rumput. Masyarakat yang mengungsi kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan hidup mereka.

Upaya meretas perdamaian di Maluku mencapai puncaknya pada penandatanganan Perjanjian Malino II oleh perwakilan pihak-pihak yang bertikai dan pemerintah pada awal 2002. Kendati begitu, upaya memupuk perdamaian di masyarakat justru yang lebih sulit dan butuh waktu lama. Pada akhir September 2011, konflik serupa hampir saja kembali terjadi. Hanya dipicu masalah sepele, seorang sopir ojek tewas dan menyulut kekerasan antaragama. Tujuh orang tewas dan puluhan rumah rusak. Namun, belajar dari tragedi 1999 - 2002, para tokoh masyarakat dan aparat keamanan yakni TNI dan Polri langsung bergerak, mengatasi konflik. Segala rumor dan pesan provokatif di akar rumput langsung ditangani. Peran media juga menentukan dalam konflik ini, dengan memberitakan informasi-informasi yang menyejukkan dan menghindari makin berkobarnya ketegangan.