|
 

Sejarah perjuangan sebuah negara, biasanya digawangi oleh para pemuda. Demikian juga Indonesia. Para pemuda di masing-masing daerah, dengan semangat tinggi bersatu menghadapi penjajahan dengan caranya masing-masing. Di berbagai daerah muncul perkumpulan-perkumpulan pemuda atau biasa disebut dengan Jong. Muaranya satu, yakni mewujudkan kemerdekaan bumi Nusantara. Di Jawa, berdirilah Jong Java pada tahun 1915. Di Sumatera para pemuda mendirikan Jong Sumateranen Bond, pada tahun 1917. Sementara di Ambon, berdiri gerakan kepemudaan daerah bernama Jong Ambon pada tahun 1918. Salah seorang yang aktif dalam pergerakan Jong Ambon adalah Dr. Johannes Leimena atau biasa dipanggil Om Jo, yang kala itu baru berumur 13 tahun. Namun, di usia yang begitu belia, Om Jo justru menjadi tokoh inti di Jong Ambon.

Peran Jong Ambon pun terus berkembang, merambat dan bergerak hingga masuk dalam pusaran sejarah pembentukan bangsa ini. Sama seperti para pemuda lain di wilayah Nusantara, Om Jo menjadi salah satu arsitek Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928. Ia menjabat sebagai Pembantu IV. Benang merah yang menarik dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia adalah, bahwa Nusantara yang sangat luas ini, sejatinya telah bersatu dalam satu bingkai persatuan jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan. Peran demi peran dilahirkan dan dijalankan oleh masing-masing anak bangsa dalam keterbatasan, baik keterbatasan akses, keterbatasan finansial dan keterbatasan komunikasi. Jong Ambon adalah salah satu gerakan kepemudaan yang terinspirasi oleh gerakan bercorak kedaerahan serupa yang ada di belahan lain Nusantara. Kendati sebelum Jong Ambon berdiri, telah benyak organisasi-organisasi lain di Ambon, namun Jong Ambon mampu menyatukan mereka semua dan justru muncul sebagai salah satu gerakan kepemudaaan yang sangat diperhitungkan pada masa kemerdekaan. Sementara itu, misi Belanda untuk menguasai Indonesia tak akan pernah pudar sama sekali.

Bara api kekuasaan penjajah menunggu untuk dinyalakan kembali, bagaimanapun caranya. Memanfaatkan kondisi Indonesia yang masih dalam masa transisi pasca kemerdekaan, Belanda kembali datang ke Indonesia selama periode 1945 ? 1950. Salah satunya dengan membonceng Sekutu. Melalui Netherlend Indische Civil Administration (NICA), Proklamasi sama sekali tak berharga di mata Belanda. Strategi devide et impera (memecah belah) kembali digunakan Belanda. Caranya, mengadakan konferensi Malino pada tanggal 15 Juli ? 25 Juli 1946, di kota Malino, Sulawesi Selatan. Diprakarsai oleh Letnan Gubernur Jendral Van Mook, Belanda ingin kembali menguasai Indonesia, melalui jalur politik. Konferensi ini diadakan bersamaan dengan penyerahan Australia atas wilayah Indonesia Timur kepada Belanda. Delegasi yang hadir adalah 39 orang dari 15 daerah dari Kalimantan (Borneo) dan Timur Besar (De Groote Oost). Tujuan konferensi ini adalah, membentuk federasi di Indonesia dan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), yang meliputi wilayah Sulawesi, Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara) dan Kepulauan Maluku, dengan ibu kota Makassar (wikipedia.org). Negara Indonesia Timur terdiri atas 13 daerah otonomi, diantaranya Maluku Selatan dan Maluku Utara. Namun, konferensi Malino mempunyai maksud sesungguhnya yaitu Belanda ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang terpecah-pecah, hingga bisa dikendalikan dengan mudah, seperti yang dilakukan Inggris kepada Malaysia.

Jalur politik terus digunakan untuk merongrong Indonesia, teror fisik juga dilakukan Belanda lewat Agresi Militer II. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda menyerang Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia pada saat itu. Serangan ini tentu mengagetkan dunia internasional. Apalagi Belanda juga menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh penting lain. Indonesia pun segera membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Akibat Agresi Militer ini, dunia internasional mengecam Belanda. Amerika Serikat yang menjadi sekutu bahkan mengancam akan menghentikan bantuan kepada Belanda jika tidak mengakhiri agresi ini.

Akhirnya, dengan terpaksa, Belanda sepakat berunding kembali dengan RI pada tanggal 7 Mei 1949 yang dikenal dengan perjanjian Roem Royen. Perjanjian dilanjutkan pada tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda dengan Konferensi Meja Bundar (KMB). Belanda berhasil membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) melalui KMB. Indonesia memang tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Belanda ini. Salah satu keuntungan Indonesia dalam konferensi tersebut yakni, Belanda harus mengakui kedaulatan RIS selambatnya pada tanggal 30 Desember 1949. Namun Belanda ternyata tidak sepenuhnya ingin Indonesia benar-benar merdeka. Dalam kesepakatan KMB, posisi Irian Barat ternyata tidak termasuk dalam kesepakatan ini. Belanda masih mempunyai hak penguasaan atas posisi Irian Barat, hingga setahun kedepan. Bayangkan, betapa Belanda sangat bernafsu dan licik ingin menggenggam Indonesia bagaimanapun caranya. RIS akan terus dalam pengawasan Belanda melalui Irian Barat. Belanda bahkan juga memberi syarat, bahwa RIS harus membubarkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Indonesia benar-benar terjepit.

Republik Indonesia Serikat (RIS) memang tak berlangsung lama. Namun bagaimanapun RIS adalah bagian dari perjuangan Indonesia menjadi negara Republik yang berdaulat. Tanggal 16 Desember 1949, Soekarno dan Hatta dipilih sebagai Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia Serikat, oleh para wakil Republik dan para wakil negara-negara bagian RIS bentukan Belanda ini. Kabinet pun segera dibentuk pada tanggal 20 Desember 1949. Inilah kabiner pertama Republik Indonesia Serikat. Selang tujuh hari kemudian, pada tanggal 27 Desember 1949 di Amsterdam diadakan Upacara Penyerahan Kedaulatan dari kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat.

Ternyata RIS memiliki banyak sekali permasalahan. Di bidang ekonomi, RIS tidak stabil. Apalagi hutang pemerintah Indonesia kepada Belanda sangat besar. Di bidang Militer, RIS tidak diperkenankan memiliki angkatan perang sendiri. Dimana tujuan itu sangat jelas ingin melemahkan posisi Indonesia. Dalam bidang sosial pun RIS juga memiliki segudang permasalahan. Dari berbagai permasalahan yang dimiliki inilah, akhirnya RIS berada dalam posisi yang sagat rentan terhadap disintegrasi atau perpecahan. Rencana jangka panjang Belanda untuk kembali menguasai bumi pertiwi pun mulai terwujud.

Di masa-masa kemerdekaan yang masih hijau, Indonesia justru mengalami rong-rongan dari dalam dengan berbagai pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang dialami pada masa RIS, dilakukan oleh gerakan Republik Maluku Selatan, RMS. Rupanya, belakangan diketahui, RMS mendapatkan dukungan dari penjajah Belanda. Pada tanggal 25 April 1950 Christiaan Robbert Steven Soumokil memproklamirkan berdirinya RMS dan menjadi presiden RMS pada tanggal 3 Mei. Soumokil lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 13 Oktober 1905. Sempat menempuh pendidikan di Surabaya, Soumokil kemudian melanjutkan studi di Universitas Leiden, Belanda hingga tahun 1934 di bidang Ilmu Hukum. Ia pun kemudian menjabat sebagai Jaksa Agung NIT. Pemerintah pun bertindak tegas atas berbagai gerakan yang ingin melumpuhkan tanah air ini, termasuk pada gerakan RMS. Pertama-tama, pemerintah mengirimkan dr. Leimena untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan jalur diplomatik. Namun ternyata RMS menolak berunding. Akhirnya, demi menjaga stabilitas dan persatuan negara, pemerintah memutuskan membentuk tim dibawah pimpinan Kolonel Kawilarang untuk menumpas RMS.

Pada tanggal 28 September 1950, tim ini mendarat di Ambon dan dalam waktu singkat berhasil menumpas RMS. Para pemberontak berhasil dilumpuhkan, namun konon lebih dari 12 ribu orang berhasil melarikan diri ke Belanda dan membentuk pemerintahan buangan. Gembong RMS, Soumokil pun akhirnya ditangkap oleh tentara Indonesia pada tanggal 2 Desember 1962 di pulau Seram. Soumokil kemudian diadili pada bulan April 1964. Yang menarik, saat diadili, Soumokil bersikeras menggunakan bahasa Belanda, padahal dirinya adalah orang Indonesia. Ini sebagai bukti, bahwa Soumukil tidak lain adalah boneka Belanda. Ia pun akhirnya dihukum mati pada 12 April 1966 di kepulauan Seribu, Jakarta.