|
 

Perjuangan raja-raja Islam di masa lalu dalam mengusir penjajah terus digelorakan hingga masa Pattimura dan Martha Christina Tiahahu. Nama asli Kapitan Pattimura memang mengandung banyak perdebatan. Sejarah versi pemerintah yang ditulis oleh M. Sapija menyebutkan, nama asli Pattimura adalah Thomas Matulessi, dan beragama Kristen. Ia adalah anak bangsawan bernama Antoni Matulessi. Antoni sendiri menurut Sapija adalah anak Raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang, namun nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan. Sementara versi sejarawan Mansur Suryanegara, nama asli Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku biasa di panggil Mat Lussy. Ia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Selain keturunan bangsawan, Pattimura adalah seorang muslim taat, bahkan ia juga seorang ulama.

 

Lepas dari perdebatan tersebut, fakta yang paling sahih adalah bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pejuang sejati. Lahir pada tanggal 8 Juni 1783 (atau 1784) dari kalangan bangsawan, ia justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bukan pribadi cengeng lantaran hidup berkecukupan. Setelah dewasa ia memasuki dinas kemiliteran milisi Kerajaan Inggris yang saat itu menduduki Indonesia dari tahun 1811-1817. Karena keberaniannya didalam tugas kemiliteran militsi Kerajaan Inggris, ia berhasil mencapai pangkat Sersan Mayor. Perlawanan Pattimura berawal ketika Inggris menyerahkan kekuasaan kepada Belanda pada tahun 1816. Belanda kemudian dengan sewenang-wenang memberikan aturan perdagangan monopoli, pajak atas tanah dan pemindahan kependudukan, hingga pelanggaran traktat London yang dibuat oleh Inggris. Traktat London isinya adalah memberikan kebebasan kepada prajurit Maluku yang dididik Inggris untuk menentukan apakah ingin melanjutkan karir bersama pemerintahan yang baru (Belanda) atau keluar. Namun Belanda memaksa para prajurit binaan Inggris ini masuk dinas militer Belanda. Berbagai pelanggaran ini membuat rakyat Maluku muak dan melakukan perlawanan. Pada bulan Mei 1817 dipimpin oleh Kapitan Pattimura, rakyat Maluku di Saparua menyerang benteng Duurstede. Akibat penyerbuan tiba-tiba ini, banyak pasukan dan penghuni benteng terbunuh.

 

Perlawanan rakyat Maluku meluas hingga ke wilayah lain di Maluku hingga ke Ambon. Perjuangan yang dipimpin Pattimura diakhiri karena politik adu domba yang memang menjadi keahlian penjajah Belanda di Indonesia. Pattimura akhirnya tertangkap dan dihukum gantung pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Mendengar pahlawan besarnya meninggal, gelora semangat perlawanan rakyat Maluku semakin berkobar dan memunculkan pejuang-pejuang baru. Salah satunya adalah seorang gadis bernama Martha Christina Tiahahu yang melakukan perlawanan di pulau Nusalaut. Christina memang bukan lahir dari kalangan orang biasa. Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, adalah pembantu Pattimura dalam perang Pattimura. Christina lahir di Nusalaut, Maluku pada 4 Januari 1800. Saat usianya baru mencapai belasan tahun, ia sudah merasakan dominasi Belanda. Hingga kemudian pada tahun 1817, tepat saat ia berusia 17 tahun, Christina bangkit melawan Belanda. Ia tak hanya dikenal sebagai pejuang belia, namun juga terkenal sebagai gadis konsekuen yang terus berjuang demi mengusir penjajah. Christina juga ikut membangkitkan semangat kaum peremuan di wilayahnya. Perjuangan Christina berakhir saat ia akan membebaskan ayahnya yang ditawan Belanda.

 

Tak lama setelah ayahnya tewas ditembak, Christina bersama 39 pejuang, ditangkap dan akan diasingkan ke pulau Jawa. Dalam perjalanan menggunakan kapal Perang Eversten, Christina tetap melakukan perlawanan dengan mogok makan, hingga akhirnya ia menemui ajalnya di dalam kapal. Jasadnya pun kemudian dibuang di Laut Banda sekitar tanggal 2 Januari 1818. Martha Christina Tiahahu meninggal tepat kala berusia 17 tahun. Tak hanya Kapitan Pattimura dan Christina Martha Tiahahu di Maluku juga banyak pemuda-pemuda pemberani yang tak kenal takut melawan penjajah seperti Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina, Ulupaha dan Said Perintah. Sejarah membuktikan, bahwa bumi Maluku memiliki banyak pejuang-pejuang tangguh yang tak pernah menyerah menghadapi para penjajah. Perlawanan rakyat Maluku besar artinya bagi negara ini.