|
 

Sebagai ibu kota Maluku, Ambon terus berbenah. Julukan yang diberikan untuk kota Ambon adalah Ambon Manise. Manise adalah kepanjangan dari Maju, Aman, Nyaman, Indah, Sejahtera dan Sehat. Tentu ini adalah cita-cita mulia dari berdirinya sebuah kota. Ambon mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan demi perubahan ini harus diiringi dengan semangat saling memiliki dan menghormati yang terus dijunjung tinggi.

Salah satu yang paling ditunggu saat ini adalah selesainya jembatan Merah Putih (JMP). Pembangunan jembatan ini dimulai sejak tahun 2011 lalu. Sempat tertunda beberapa kali, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono berjanji pembangunan jembatan yang menghubungkan desa Galala, di kecamatan Sirimau dan desa Poka di kecamatan Teluk Ambon itu akan selesai pada Januari 2016 mendatang. Jika jembatan ini benar-benar selesai dibangun, maka berbagai aktifitas ekonomi warga akan semakin menggeliat. Jarak bandara dengan kota Ambon yang biasanya ditempuh sekitar 1 jam bisa dipersingkat hanya sekitar 15 menit.

Masyarakat Maluku paham benar, bagaimana rasanya menderita akibat konflik komunal. Pelajaran yang mereka alami begitu mahal untuk terulang kembali. Kini Maluku terus berbenah. Sebagai provinsi kaya, Maluku harus bisa mandiri. Kontribusi Maluku untuk republik ini tak perlu dipertanyakan lagi. Berbagai peran disandang oleh Maluku untuk Indonesia. Dari kekayaan hasil laut saja, Maluku tercatat sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia. Ikan demersal (ikan yang habitatnya di bagian dasar perairan) seperti ikan kakap merah, kerapu atau bawal dan ikan pelagis (ikan yang berada di permukaan hingga kolom air) seperti ikan tuna, cakalang dan tongkol, melimpah di perairan Maluku. Maluku memiliki tiga wilayah pengelolaan ikan, yakni Laut Banda, Laut Seram dan Arafura. Potensi di wilayah laut Maluku selain ikan adalah, lobster, tiram, teripang, rumput laut hingga kerang. Belum lagi potensi ikan air payau dan air tawar, begitu besar di wilayah Maluku. Dengan kekayaan itu, sudah pasti Maluku layak disebut sebagai lumbung ikan untuk Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provinsi (BKPMD) Provinsi Maluku mencatat, Maluku memiliki wilayah laut seluas 658.294,69 Km2, dengan panjang garis pantai 8.287 Km. Sedangkan luas wilayah kelola laut (12 mil) sebesar 152.570 Km2, dengan kondisi dominan wilayahnya adalah perairan (92,4 %). Andai kekayaan laut ini bisa dimaksimalkan, bukan tidak mungkin kekayaan laut Maluku akan sanggup menunjang APBN negara kita.

Selain ikan, potensi hutan dan tanaman di Maluku juga menjanjikan. Walaupun sebagian besar wilayahnya adalah lautan, namun tanah Maluku sangat subur. Disaat wilayah lain mulai kekeringan, Maluku masih diberi karunia dengan air yang melimpah. Pembenihan ikan dan pembibitan tanaman sudah dilakukan Kodam XVI/Pattimura dengan melibatkan masyarakat sekitar. Pangdam XVI/Pattimura Mayjen Doni Monardo selalu menyerukan betapa berharganya 'emas biru' dan 'emas hijau' milik Maluku. Istilah emas biru dan emas hijau ini tak lain adalah kekayaan laut dan kekayaan tanaman atau hutan tanaman rakyat yang dikandung Maluku. Kodam XVI/Pattimura juga mengumandangkan slogan 4 S yakni : senyum, sapa, salam dan silaturahmi.

Kodam XVI/Pattimura juga mengajak orang Maluku untuk menghindari 4 M yaitu : mabuk, marah, melotot dan memukul. Sebab empat M tadi yang selama ini menghancurkan sendi-sendi kehidupan persaudaraan di Maluku. Merawat perdamaian dimulai dari dalam pribadi masing-masing masyarakat Maluku. Salah satu cara yang saat ini gencar dilakukan oleh Kodam XVI/Pattimura adalah memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang bersumber dari kekayaan alam bumi Maluku. Hingga kini Kodam XVI/Pattimura terus menginisiasi berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat Maluku dan Ambon. Setiap Jumat misalnya, Pangdam selalu singgah ke masjid-masjid untuk sholat Jum?at dan bertemu masyarakat. Atau mengadakan acara kegiatan olahraga bersama masyarakat sekitar. Menjaga perdamaian di setiap wilayah di Indonesia memang menjadi tantangan tersendiri. Luasnya bumi Indonesia menghasilkan adat istiadat yang berbeda-beda. Di Maluku sendiri, dengan berbagai peristiwa yang terjadi, menjaga perdamaian lebih dari sekedar ikrar damai.