|

Perajut Damai di Bumi Pattimura


Minggu , 26 Februari 2017

EMAS BIRU DAN EMAS HIJAU, PERAJUT DAMAI DI BUMI PATTIMURA

"Mari kita ajak seluruh anak bangsa wujudkan stabilitas keamanan dan politik agar NKRI tidak pecah belah, agar pertumbuhan ekonomi positif, iklim usaha maju, pembangunan semakin merata, dan rakyat sejahtera," Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (Universitas Trisakti, Jakarta, 11 November 2016).

Bobot Tambun dan Rebutan Pangan        Bumi semakin sesak. Jumlah manusia di bumi, membludak. Padahal, pertumbuhan penduduk yang dinamis, bahkan nyaris tak terkendali, sangat bertolak belakang dengan ketersediaan lahan yang bersifat statis. Lahan segitu-gitu saja, tak bertambah, malah semakin sempit oleh jumlah manusia.

Artinya, ketersediaan pangan makin menipis, dan inilah isu strategis dunia terkini. Pun Indonesia. Hal ini, kita tahu, sebabnya adalah laju pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan mengikuti deret hitung (Ceramah Panglima TNI tentang Peran Pemuda dalam Menghadapi Proxy War).        

Indonesia adalah negara super kaya, dengan lokasi strategis. Kita sudah sadar betul tentang hal itu. Namun, melimpahnya kekayaan alam tanpa dibarengi upaya pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, akibat kualitas sumber daya manusia yang belum memadai, apa jadinya?

Bukannya makmur, kekayaan berlimpah tanpa kamampuan pengelolaan, malah  berdampak pada kurang optimalnya pemanfaatan potensi bahan pangan baik di darat maupun di laut. Contohnya, pada sektor kelautan. Ikan-ikan laut di perairan Maluku misalnya, masih merupakan potensi kekayaan laut yang didominasi perikanan tangkap. 

Hasil Seminar Perikanan di Dunia menjelaskan bahwa posisi potensi ikan tangkap saat ini pada angka 54%, lebih besar dibandingkan ikan budidaya pada angka 46%.  Meski seminar tersebut juga "menghasilkan ramalan manis" bahwa pada 2025, produksi hasil budidaya lebih mendominasi dibanding Ikan tangkap. Perbandingannya, 42% ikan tangkap dan 58% ikan budidaya.(Seminar Perikanan Dunia di Sofia 2016)    

Seberapa lama laut dapat bertahan, jika isinya dikeruk terus menerus tanpa pembudidayaan? Ingat, persoalan pangan juga terkait erat dengan kesejahteraan.      Persoalan pangan, terkait dengan kesejahteraan dan pertahanan negara. 

Menipisnya ketersediaan hasil tambang bumi dan kondisi sumber daya alam dunia, bisa menjadi ancaman nyata bagi Bangsa Indonesia. Sebab, berubahnya latar belakang dan lokasi konflik dari bentuk perebutan energi bumi, menjadi perebutan bahan pangan, energi terbarukan dan air yang lokasinya berada di wilayah NKRI.      

Mari kita hitung jumlah penduduk Indonesia, kini 255.708.785 jiwa atau menempati rangking empat teratas jumlah penduduk dunia (Indonesia Investment).

Jumlah penduduk sebesar itu memang bisa menjadi modal dasar pembangunan, jika kualitasnya ada. Namun, bagai raksasa over weight, bobot besar bakal menjadi tambun dan susah bergerak, jika tidak diimbangi kualitas sumber daya manusia Indonesia yang mumpuni.     

Menyadari hal yang tengah terjadi, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam berbagai kesempatan, selalu mengingatkan tentang ancaman baru yang dikenal sebagai Proxy War. 

Ancaman tersebut, menggunakan kekuatan yang berasal baik state actor maupun non state actor. Aktor tersebut akan menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan akhirnya yakni menguasai sumber daya Indonesia tanpa harus mendudukinya.

Maka, Serbuan Teritorial menjadi kebijakan Pimpinan untuk membendung dan menetralisir ancaman yang  dapat menggerogoti kondisi ketahanan Nasional di seluruh wilayah Indonesia. 

"Menanam" di Laut dan di Darat      

Konflik belasan tahun lalu yang pernah terjadi di Maluku dan Maluku Utara, masih menyisakan dampak bagi kesejahteraan masyarakat. Bahkan, di kedua wilayah tersebut, masih tersisa pula residu-residu, berupa persoalan sosial yang harus dipecahkan.    

TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan, perlu melakukan tugas bantuan kepada pemerintah daerah dalam bentuk pemberdayaan wilayah pertahanan.

TNI juga membantu Pemerintah Daerah (Pemda) dalam menyiapkan potensi pertahanan negara (UU Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI) dan berkewajiban memberikan kontribusi untuk menegakkan kedaulatan atas pemanfaatan, keutuhan dan ketersediaan sumber daya, serta melindungi berbagai kepentingan nasional terkait sumber daya nasional.    

TNI dituntut memberikan kontribusinya baik bagi pertahanan dan keamanan maupun peningkatan kesejahteraan melalui kemampuan sistem senjata sosialnya. Sehingga militer tidak hanya sebagai penyerap anggaran namun juga mampu berkontribusi bagi pendapatan negara.

Perhaps defense can be seen as method of generating income for the nation rather than solely as a tool that absorbs nation’s income. This approach may show how one may generate cake as well as eat it. ?    

Mencermati kondisi yang berlaku di wilayah Maluku dan Maluku Utara, dalam rangka pelaksanaan kebijakan Serbuan Teritorial TNI, Kodam XVI/Pattimura berupaya menyelesaikan permasalahan kesejahteraan sebagai salah satu isu strategis selain keadilan dan kesetaraan. 

Maka, melalui pemanfaatan potensi kelautan dan pertanian serta kehutanan, Kodam XVI/Pattimura berupaya menjawab permasalahan pangan  melalui  peningkatan kesejahteraan dalam bentuk berbagai program pemberdayaan masyarakat.      

Program-program tersebut dikenal dengan sebutan Program Emas Biru untuk budi daya kelautan dan Program Emas Hijau untuk budi daya pertanian dan kehutanan. 

Emas Biru dan Emas Hijau 

Program Emas Biru untuk budidaya kelautan dan Program Emas Hijau untuk budidaya pertanian dan kehutanan. Keduanya merupakan suatu solusi guna menciptakan wilayah binaan menjadi daerah damai, aman, rukun dan sejahtera.  Secara konseptual, konsep yang digunakan untuk mewujudkan tujuan di atas adalah pendekatan kesejahteraan (prosperity approach).       

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Friedlander (1962) bahwa pendekatan kesejahteraan adalah upaya dalam membangun dan mengembangkan segenap kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan yang selaras dengan potensi wilayah.    

Laut dan tanah Maluku, adalah "ibu" bagi rakyatnya. Tak pelak jika  salah satu yang menjadi perhatian Kodam XVI/ Pattimura adalah peningkatan berbagai pembinaan potensi maritim.

Selama ini sudah dan tengah diselenggarakan, namun belum maksimal menyentuh potensi-potensi maritim. Potensi maritim, hakikinya merupakan potensi besar nan belum terolah dengan baik. Misal, seberapa mampu kekayaan laut dapat bertahan, jika terus menerus dikeruk isinya?       

Maka, jumlah ikan di samudera perairan Maluku dan Maluku Utara, tak boleh dihadapi dengan santai: keruk terus, tanpa pembudidayaan. 

Emas Biru adalah Program pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan potensi-potensi kelautan yang belum optimal terolah dan tersentuh oleh pihak terkait guna meningkatkan pengembangan budidaya kelautan.       

Sasaran budi daya Emas Biru meliputi budidaya Ikan Kerapu, Kakap Putih, Bubara, Kepiting, Lobster, Udang, Rumput laut, dan Teripang. 

Adapun kegiatannya meliputi tahapan pembibitan, pembesaran sampai dengan panen dan bekerja sama dengan pihak-pihak instansi terkait, masyarakat, LSM dan para penggiat dan pencinta Laut. 

Dalam program ini juga dikembangkan kearifan lokal masyarakat di laut seperti pembuatan Bubu, Rumpon dan Bagan.      

Agar program ini berhasil, terlebih dahulu diselenggarakan berbagai Pilot Project dan pelatihan dengan bekerja sama dengan BRI, Jamkrindo, BNI, dan BI.

Kemudian dalam kegiatan tersebut juga disalurkan berbagai bantuan antara lain keramba jaring apung, keramba jaring tancap, Rumpon, Bubu, dan “keramba darat”. Dengan demikian Kodam telah menerapkan filosofi memberi Kail selain memberi Ikan. ?      

Program Emas Biru juga mengembangkan gagasan "Bank Ikan" di wilayah terpencil Maluku Utara. Keramba Teluk di Pulau Lifomatola kabupaten Taliabu menjadi lokasi tempat penyimpanan ikan yang diberi nama teluk Pangdam. 

Keramba teluk bertujuan sebagai cadangan penyimpanan ikan guna menghadapi musim di mana nelayan tidak dapat melaut dan juga mengatasi kesulitan pemasaran.    

Pada pelaksanaannya, Emas Biru memberikan berbagai materi baik bersifat fisik maupun non fisik. Materi fisik meliputi pembuatan keramba, budidaya ikan, udang, kepiting, rumput laut dan teripang.

Sedangkan materi non fisik berisikan sosialisasi dan pelatihan dengan metode praktik keterampilan dan pembelajaran pengetahuan tentang pembuatan sarana dan sistem budidaya ikan.

Kegiatan ini ternyata memperoleh respons positif dari berbagai pihak yang telah mengunjungi berbagai lokasi pilot Project emas Biru.          

Dukungan moril dari pejabat-pejabat yang telah berkunjung antara lain Wakil Presiden RI, Panglima TNI, Kasad, Menristek Dikti, dan Menteri BUMN serta sejumlah Dirut BUMN. ?      

Program berikutnya adalah Emas Hijau. 

Emas Hijau adalah Program pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan berbagai potensi tanaman yang belum optimal terolah dan tersentuh oleh pihak terkait melalui kegiatan budidaya tanaman buah-buahan dan tanaman keras untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat.     

Sasaran Program Emas Hijau meliputi buah-buahan khas Maluku dan Maluku Utara yang belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas, serta tanaman keras produktif. Buah-buahan seperti Gandaria, Alpukat, Sukun, Rambutan Rapiah, Mangga dan lain-lainnya memiliki keunggulan secara kualitas, ditinjau dari rasa, aroma dan ukurannya. 

Sedangkan tanaman keras produktif meliputiSamama/Jambon Merah, Palaka, Merbau, Lingua, Jati, Pahara, Gaharu dan tanaman produktif lainnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini bekerja sama dengan pihak-pihak instansi terkait, masyarakat, LSM dan para penggiat dan pencinta lingkungan hidup. Diawali dengan pemberian pengetahuan berkaitan dengan jenis-jenis tanaman dan teknik penanaman dan pemeliharaan, pelatihan juga membekali masyarakat dengan keterampilan praktis di lapangan dalam bentuk pembibitan, pembuatan pupuk organik, teknik cangkok dan stek serta mengatasi berbagai hama tanaman.    

Adapun materi-materi Program Emas Hijau berisi materi yang bersifat fisik dan non fisik. Secara fisik, pembibitan tanaman keras, tanaman buah-buahan, pembuatan gula aren dan minyak atsiri menjadi obyek kegiatan pelatihan. Sedangkan non fisik, sosialisasi dan pemberian pengetahuan dan ketrampilan tentang tanaman keras, buah-buahan dan hortikultura menjadi materi kegiatannya.      

Selain tanaman, program emas hijau juga bergerak di bidang peternakan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia masih bergantung pada impor daging sapi. Berdasarkan data populasi ternak bahwa Maluku sangat potensial bagi pengembangan ternak kambing dan domba.

Maka, dalam penyelenggaraan Program Emas Hijau ke depan, pihak kementerian BUMN juga akan menjajaki kerja sama ternak kambing dan domba di wilayah maluku dengan bibit awal sejumlah 5000 ekor.      

Program Emas Hijau bukan hanya bermanfaat secara ekonomis, namun juga secara ekologis. Semakin banyak tumbuh-tumbuhan yang ditanam berdampakpada peningkatan kualitas udara dan terjaganya ketersediaan air. Lingkungan yang semakin sehat, nyaman dan sejuk bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Emas Putih,

Buah Perdamaian      Secara sosial, manfaat Emas Biru dan Emas Hijau  telah  dirasakan oleh masyarakat Desa Mamala dan Desa Morela. Perdamaian dan kehidupan yang lebih rukun dan tenteram telah terwujud dengan  terselenggaranya program ini.       

Seperti ditegaskan oleh Raja Mamala Bapak Ramli Malawat, ia  mengaku lega karena warganya hidup lebih tenang dan tenteram serta nyaman. Masyarakat bisa ke hutan dengan leluasa tanpa ada perasaan cemas dan takut dalam memanen Cengkeh, Pala dan hasil lainnya” (Retaduari, 2016). 

Emas Hijau telah memberikan manfaat Ekonomis, Ekologis dan Sosial.  ? Kenal, maka Sayang: Perlunya Pendekatan Antropologi Budaya Lokal     Sejalan dengan kegiatan tersebut, kontribusi TNI dalam pembangunan melalui metode bakti TNI telah terselenggara dalam wujud TMMD.  

Pada TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) tugas-tugas per bantuan kepada pemerintah daerah bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan mempercepat pembangunan di wilayah dalam kerangka OMSP (Operasi Militer Selain Perang).

Berbagai hasil fisik dan non fisik telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun, sampai dengan saat ini TMMD masih terkesan lebih mengandalkan sasaran fisik dan kurang memanfaatkan berbagai potensi wilayah. 

Dengan demikian, seyogyanya TMMD lebih mengedepankan pemanfaatan sumber daya dan potensi wilayah.        Oleh karenanya, Konsep TMMD ke depan, sebaiknya lebih menitikberatkan pada pendekatan bermotif ekonomi semata, namun juga untuk kesejahteraan rakyat.

Pendekatan tersebut berorientasi untuk membangun kemampuan rakyat (people-centered economy) dalam mengelola potensi yang ada di wilayah.

Masyarakat ikut serta secara menyeluruh mulai tahap awal sampai dengan pengelolaan keuntungan atau mulai dari hulu sampai dengan hilir.      

Sejalan dengan itu, Amartya Sen (1999), peraih Nobel Ekonomi menyatakan bahwa sejatinya pembangunan adalah proses meluasnya kemampuan rakyat (expansion peoples capabilities), di mana rakyat tidak hanya menjadi objek untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi (to have more), namun juga menjadi subjek pembangunan di wilayahnya untuk mendapatkan nilai tambah sosial-budaya (to be more).        

Guna merealisasikan konsep pemberdayaan masyarakat tersebut, maka diperlukan suatu komunikasi sosial yang efektif dan intens dengan berbagai pihak.

Masyarakat Maluku dan Maluku Utara memiliki ciri khas masyarakat Kepulauan, oleh karenanya diperlukan pengetahuan Antropologi Budaya dan kemampuan interpersonal yang memadai.       

Dengan memanfaatkan kearifan lokal “Katong Samua Basudara” dalam komunikasi sosialnya, Kodam XVI/Pattimura mengajak seluruh elemen masyarakat, jangan Ale biking 4M(mabuk, melotot, marah dan memukul) dan Mari Katong selalu biking 4S (senyum, sapa, salaman dan silaturahmi) dan atau JANGAN 4M & HARUS 4S. 

Sebagaimana diutarakan oleh DR. Susaningtiyas Kertopati tentang kompetensi sosial budaya (Socio culture) prajurit khas Kodam XVI/Pattimura, yang sejalan dengan pendapat McFarland (2005), peneliti lintas-budaya bidang militer, mendefinisikan kompetensi sosial-budaya bagi seorang prajurit merujuk pada kemampuan untuk memahami dan beradaptasi terhadap lingkungan sosial-budaya di tempat mereka bertugas.         

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Program Emas Biru dan Emas Hijau sejatinya merupakan penggunaan Smart Power, yaitu keseimbangan antara pendekatan kesejahteraan dan keamanan. 

Melalui strategi tersebut, Kodam XVI/Pattimura mengendalikan kondisi wilayah agar tetap kondusif denganmenggunakan pendekatan yang lebih humanis dan persuasif serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan untuk mencapai kesejahteraan dalam rangka meningkatkan Ketahanan Nasional.       

Tema kesejahteraan yang dikumandangkan sebagai pesan dalam berkomunikasi sosial menjadi bukti bahwa masih banyak alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah di wilayah.

Dan pada akhirnya penggunaan soft power juga menjawab permasalahan kebutuhan ekonomi di wilayah. “A prosperity Agenda causes us to consider the use of military soft power for economic ends”       Selain manfaat peningkatan kesejahteraan, kedua program tersebut juga memperkokoh ketahanan nasional di wilayah. 

Berbagai upaya yang telah dilakukan Kodam XVI/Pattimura merupakan bentuk kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memelihara kondisi keamanan wilayah yang lebih kondusif.

Besar harapannya, bahwa Program ini memberikan inspirasi tentang model kegiatan pemanfaatan potensi wilayah yang belum terolah menjadi berbagai bentuk kegiatan-kegiatan yang terintegrasi  dalam TMMD dan program Binter lainnya.     (pendam16)