|

Menelusuri jejak "Lawamena Haulala"


Kamis , 15 Desember 2016

(Ambon, 15/12) Mencari rumah Bapak Drs. Noer Tawainella di Tulehu cukup mudah, namun untuk menghindari tanya berulang, kami meminta seorang tukang ojek mengantar dari depan kampus Universitas Darussalam Tulehu.

Lima menit kemudian kami tiba di depan rumah Pak Noer, demikian panggilan akrab orang tua yang 72 tahun lalu lahir (29 Nopember 1944) di Negeri Tulehu, sekitar 30 Km ke arah Utara dari pusat Kota Ambon.

Pak Noer, memiliki cukup referensi tentang berbagai sejarah di Maluku. Beliau di kalangan aktifis tahun 60-an adalah penggerak dan dikalangan intelektual Maluku adalah nara sumber yang hanya bergelar sarjana strata satu (dokterandus) tapi dengan kemampuan intelektual yang tidak diragukan.

Ketika Pak Noer menyebut beberapa teman beliau di lembaga kebudayaan, meyakinkan kami, bahwa beliau adalah asset Maluku.

Disana beliau menyebut Prof Lokollo, Prof. Dr. Mus Huliselang, Dr. Usman Thalib, Prof. Dr. Tony Pariella dll. Semua nama yang disebut adalah dosen dengan title dan gelar doktor bahkan profesor.

Pak Noer berpenampilan sangat sederhana. Dari ruang dalam rumah, Pak Noer berjalan perlahan dengan dibantu tongkat. Tapi begitu memasuki ruang tamu, tongkat disimpan di ruang tengah, ruang keluarga.

Saya menangkap, inilah kesederhanaan dan kekuatan Pak Noer. Tidak suka dikasihani, bahkan tidak mau menampakkan kalau beliau dalam kondisi yang tidak sesehat beberapa bulan lalu karena sempat dirawat di RS Tulehu.

Hari itu, Kamis 1 Desember adalah pertemuan pertama saya, M. Hasyim Lalhakim Kolonel Arh yang sekarang menjabat Kapendam XVI/Pattimura dengan Pak Noer.

Hari itu, kami sedang menggali asal penggunaan Pataka Kodam “Lawamena Haulala”. Diskusi kami sesekali rada serius, terutama ketika Pak Noer menerangkan dengan bersemangat. Selebihnya cukup santai.

Semangat beliau melebihi umur yang kepala tujuh. Semangat itu masih tampak sebagaimana ketika saya menemuinya di Diklat Kemenag Waiheru tempat dimana beliau mengabdi sebagai PNS dan menjadi widyaiswara beberapa tahun lalu.

“Tahun 1965 Kodam belum miliki Pataka, maka mereka membuat sayembara yang diikuti Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (Lekrindo, penulis), Lesbumi dari NU, dan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI).

Masing-masing menggali pekik dari pejuang yang ada di Maluku. Saya lalu disuruh oleh Bapak Ate Mewar untuk meneliti pekik Kapitan Telukabassy yang berjuang di Benteng Kapahaha tahun 1637 sampai 1646.

Benar saja ketika penelitian, kami menemukan aura pekik itu sangat kuat membangkitkan semangat juang melawan penindas Belanda.” “Ketika HSBI melakukan penelitian di Morella. Saya tinggal di rumah Bapak Acim. Rumah sebelum Masjid Morella.

Di sana saya dan teman-teman melakukan penelitian dengan menggali melalui Kapata perang Kapahaha.” SBI lalu menawarkan “Lisa’e Makana, Lawamena Haulala.” Lisa = perang, makana = bertahan.

Kata Lawamena sering digunakan hampir semua negeri-negeri di Maluku. Artinya maju ke depan. Hau itu artinya bau, sedang Lala berarti darah. Itu arti harfiyahnya. Atau bisa diartikan “berperang mempertahankan daerah kita, maju kedepan biar berdarah-darah”.

Namun, menurut Pak Noer, pekik itu terlalu panjang untuk satu pataka. Maka disepakati, mengambil “Lawamena Haulala” saja. Baliau juga menerangkan pada kami, makna filosofinya, Lawamena Haulala berarti “Maju terus walau bersimbah darah, dengan semangat yang berapi-api”.

Teriakan Lawamena Haulala juga diteriakkan Kapitan Telukabessy ketika istrinya, Carolina “Putijah” Verheijden tertembak oleh ayahnya sendiri, Jacop Verhijden yang menjadi komandan pada saat penyerangan Kapahaha.

“Akhirnya HSBI yang memenangkan sayembara pembuatan Pataka Kodam XVI Pattimura di tahun 1965 itu yang saat itu masih menjadi Kodam XV. Saya lupa siapa Panglima Kodam saat itu. Tapi ketika pataka itu diterima, saya ingat betul yang datang dari Jakarta adalah Jenderal Achmad Yani.” Cerita Pak Noer.

“Pak Yani juga yang memberikan kami hadiah, sebuah sepeda Doltrap (bahasa Belanda doortrap, penulis) sepeda yang menggunakan kaki untuk menghentikan laju sepeda. Sejak saat itu pula Kodam Pattimura menggunakan Lawamena Haulala sebagai Pataka.” Lanjut Pak Noer.

Lawamena Haulala resmi menjadi Pataka Kodam XVI/Pattimura dengan Surat Telegram Menteri/Panglima Angkatan Darat Nomor: T-1799/1965, dan diresmikan penggunaan oleh Jenderal Achmad Yani di lapangan Merdeka Ambon tanggal 5 agustus 1965 (Israr, 2002).

Pak Noer masih ingat detail perang Kapahaha dan proses pencarian pataka Kodam tersebut. Pak Hasyim yang sejak tadi mendengarkan penuturan Sang Penemu pataka Kodam, sesekali menimpali untuk menggali lebih dalam cerita dibalik pataka.

Saya tertegun ketika Pak Hasyim bertanya “.. pernahkah orang Kodam ke rumah bapak bersilaturrahim dan mengundang Bapak ke Kodam ?”. Pak Noer jawab singkat. “Belum pernah. Saya terakhir ke Kodam ketika ada pertemuan kebudayaan sebelum kerusuhan Ambon 1999. Sesudah itu tidak pernah lagi”.Pertemuan itu sendiri tidak punya hubungan langsung dengan pataka Kodam.

Pak Hasyim kemudian menerangkan kepada kami, sakralnya pataka. “Pataka bagi TNI sebagai ruh perjuangan. Tiap ada pengangkatan prajurit hingga perwira, pataka harus dihadirkan. Kalau di dalam ruangan, maka pataka dihormat. Tapi kalau di luar ruangan, mesti hormat senjata.

Lawamena Haulala sebagai pataka Kodam, mestinya diketahui artinya, filosofinya, dari mana digali, hingga sejarah terbentuk pataka tersebut. * * *

Kami lalu saling mengisi cerita. Saya sendiri pernah menelusuri informasi tentang Lawamena Haulala versi Kodam Pattimura “baru” yang kembali dihidupkan tahun 1999 ketika konflik Ambon menjadi-jadi.

Sebelumnya tahun 1980-an beberapa Kodam dilebur, termasuk Kodam XVI/Pattimura yang digabung menjadi Kodam Trikora. Saya memperkirakan data tentang asal muasal pataka tidak disimpan baik saat peleburan Kodam tersebut.

Adalah Mayor CAJ Hikmat Israr, yang membuat Buku Lintasan Sejarah Kodam XVI/ Pattimura. Di situ ia menulis tentang Lawamena Haulala (hal 254), yang membagi pekik menjadi dua. Lawamena adalah pekik Kapitan Pattimura dan Haulala adalah pekik dari Kapitan Telukabessy.

Buku yang terbit tahun 2002 itu memang butuh beberapa pengecekan data ulang, sebagaimana catatan pengantar di awal buku oleh Brigjen Syarifuddin Summa (Pangdam saat itu) bahwa disadari masih banyak kekurangan dalam penulisan buku tersebut, sehingga dibutuhkan kritik dan saran.

Kita bisa memaklumi, ketika pengumpulan data, kondisi Ambon belum aman. Bahkan menurut Dr Abdul Rauf Basri yang saat penulisan buku bersebelahan kamar kos (di samping Hotel Abdullah Lie Waihaong) dengan Mayor Israr, bahwa Israr mengakui pengumpulan data saat di saat kerusuhan Ambon sangat sulit. Karena tidak bebas mencari data.Sementara target waktu sudah ada.

Setelah ngobrol lebih dua jam dengan Pak Noer, kami pamit. Tak lupa, kami meminta Pak Noer menulis sejarah Lawamena Haulala dari hasil tangan beliau sendiri. Beliau menyanggupi sambil tersenyum. Kami sempatkan diri shalat zuhur di mushalla dekat rumah beliau.

Usai shalat, saya berterima kasih pada Pak Hasyim. Kali ini “teriakan” Lawamena Haulala terdengar menembus dinding tebal Benteng Victoria, tempat dimana Kapitan Telukabessy tahun 1646 digantung.

Saya mengucap syukur, hari itu, perhatian serius sudah datang dari Kodam kepada Sang Penemu Pataka. Dalam perjalanan pulang, kami masih berdiskusi. Saya banyak belajar dari pertemuan ini.

Begitu sakral sebuah pataka yang terikat di bendera. Semoga pertemuan Pak Hasyim dan Pak Noer membawa angin segar bagi sejarah Kodam, dan sejarah Maluku. Semoga.

(Durian Patah, Ambon, 12 Desember 2016 Fuad Mahfud Azuz Guru Mangaji)